Gue ngerasa, Bang Toni bukan hanya seorang pelatih, Beliau
adalah seorang Ayah.
Seorang Ayah yang yakin kalau gue memiliki potensi. Ketika
gue ga yakin bisa memimpin tim, Beliau melihat mata gue, dan mengatakan bahwa
gue bisa. Ketika gue mengatakan “ aku ga bisa dribble kiri, coach”, Beliau yang selalu
meminta gue belajar dribble kiri. Beliau selalu yakin pemain nya pasti bisa,
asalkan mau.
Bang Toni selalu menyelipkan pelajaran hidup melalui basket. Ada tiga pelajaran yang melekat di gue:

